KHABAYA AZZAWAYA 1

      Banyak sekali hal yang bisa saya pelajari dari teman-teman dan adik-adik mahasiswa ketika ngumpul rumah hari ini. Biasanya kami selalu ngumpul rutin tiap bulan untuk mengungkapkan masalah masing-masing seraya mencari solusi demi kebersamaan yang menjadi motto kami. Kami adalah sekumpulan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Universitas AlAzhar Mesir. Tinggal di rumah sewaan. Kami menganggapnya sebagai rumah bukan  tempat kos. Bedanya kalau anda di kos biasanya hidup nafsi-nafsi dan mementingkan kepentingan pribadi, sedangkan dirumah anda hidup penuh dengan nuansa kekeluargaan, kebersamaan, dan saling menghargai antar sesama laiknya keluarga anda. Ya kebersamaan ini begitu urgen bagi kami yang berada jauh di negeri orang. Tidak ada tempat mengadu kecuali kepada saudara sesama mahasiswa.

      Dari masyarakat mikro inilah kami belajar bagaimana bermasyarakat. Bagaimana anda mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Menepikan ego pribadi demi persaudaraan. Dari sinilah kami belajar bagaimana memahami watak dan karakter masing-masing. 10 orang kami tinggal bersama. Masing-masing memiliki watak dan karakter berbeda-beda.  Kalau dari sepuluh orang ini anda bisa belajar, insyaallah anda akan mampu hidup bermasyarakat tatkala nantinya pulang ke tanah air. Karena 10 orang ini cukup mewakili karakter masyarakat daerah anda bahkan mewakili karakter masyarakat Indonesia. Ada yang pendiam, itu mewakili ribuan bahkan jutaan orang pendiam dibawahnya. Tatkala kita mampu berinteraksi dengan si pendiam yang notabenenya menyimpan masalah, kita akan mampu menguasai ribuan orang pendiam diluar sana. Adalagi orang yang cepat emosi melebih-lebihkan masalah kecil, ketika anda memahami karakternya dan mampu meredakan emosinya maka anda akan mampu berinteraksi dengan ribuan orang yang cepat emosi seperti dirinya diluar sana. Adalagi yang apatis dengan kondisi rumah, ketika anda mampu menangani orang seperti ini dan bisa membuatnya peduli dengan lingkungan sekitar, saya rasa kita telah sedikit sukses nantinya menangani ribuan orang apatis lainnya. Ada yang arogan, penyabar, dermawan, pelit, suka berbicara namun minim aplikasi, bijaksana, tidak ambil pusing dengan orang lain walau dia dijatuhkan dan lain sebagainya. Ini adalah karakter umum masyarakat kita bahkan karakter umum manusia.

      Tapi walau bagaimanapun anda tidak bisa memaksakan pendapat dan kehendak anda ketika hidup bersama. Hal ini akan memicu hubungan kurang harmonis antar sesama dan bisa jadi akan menyebabkan bubarnya masyarakat mikro yang telah anda bangun sekian lama. Makanya yang perlu dilakukan adalah menerima, memahami dan mencintai teman anda lengkap dengan kelebihan serta kekurangannya. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Ketika anda mencari kesempurnaan dari teman anda bersiap-siaplah anda tidak akan pernah mendapatkan teman. Hiduplah sendiri ditempat terpencil jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk manusia. Anda sendiri tidak sempurna bagaimana anda akan mengharapkan kesempurnaan dari teman anda.

      Diantara pelajaran lain yang bisa saya ambil dari teman-teman saya adalah bahwa tiap manusia walau bagaimanapun kondisinya hari ini, masih memiliki niat yang tulus untuk menjadi lebih baik. Yakinlah suatu hari dia akan menjadi apa yang dia inginkan walau anda mendapatinya sedang tidak termotifasi menjalani kehidupan. Makanya anda sebagai sahabat yang hidup bersamanya memiliki tanggung jawab sosial demi kesuksesan mereka. Ini begitu penting anda lakukan agar anda yang sedang termotifasi tidak ikut luntur seperti mereka. Itulah indahnya hidup bersama, ketika anda lemah teman andalah yang akan memotifasi anda, mengingatkan anda ketika lalai. Dan banyak lagi pelajaran lainnya yang akan saya paparkan pada tulisan saya dilain waktu.

Kairo, 3 May 2016 M

Disaat hati ini merindukan sahabat sejati

 

GAGAL , SIAPA TAKUT !!!

       Begitu pahitnya sebuah kegagalan terkadang membuat seseorang tidak mampu lagi bangkit meretas asa mengumpulkan kembali kepingan-kepingan kesuksesan yang telah dia bangun dari bawah. Barangkali kita belum menyadari betapa kehidupan hari ini adalah buah dari kegagalan-kegagalan masa lalu kita. Tidak seorangpun di dunia ini yang tidak pernah gagal sebelum mencapai piramida kesuksesan yang mampu dia gapai, ini yang harus ditanamkan dalam diri kita masing-masing sebelum beranjak lebih jauh melangkah dalam hidup ini. Kaidah ini kalau belum dipahami dan diresapi maknanya dalam diri, akan membuat kegagalan yang dialami kadang terasa sebagai akhir dari kehidupan kita. Makanya tak heran seseorang akan merasa depresi, down, disorientasi, bahkan naasnya bunuh diri karena tidak mempunyai mental untuk gagal. Akan tetapi tatkala kaidah dasar ini telah dimaknai, dia akan menjadi imunitas bagi diri  saat kegagalan hadir menyapa masing-masing manusia.

       Percayalah bahwa tidak ada kegagalan yang abadi dalam kehidupan ini tatkala kita mau melawannya. Kegagalan itu akan abadi tatkala seseorang tidak mau berusaha bangkit darinya. Makanya inti dari hidup ini adalah perjuangan, kesungguhan dan usaha tanpa kenal lelah melawan kegagalan demi kegagalan. Bukankah sebelum mampu berjalan, berlari bahkan terbang lebih tinggi, kegagalan menghampiri kita. Seorang bayi jatuh bangun tiada henti karena berjuang melepaskan dirinya dari ketidakmampuan untuk berjalan. Ketika dia jatuh dia bangkit lagi. Ketika jatuh tanpa kenal putus asa dia selalu bangkit lagi, hingga akhirnya bisa berjalan , berlari bahkan terbang lebih tinggi. Coba bayangkan kalau bayi tersebut berhenti disaat kegagalan pertama menghampirinya, pastinya dia tidak akan pernah merasakan nikmatnya bisa berjalan******

    Apapun profesi kita, kegagalan pasti akan menyapa. Karena ini sudah menjadi sunnatullah bagi orang yang akan mencapai puncak kesuksesan. Saya membahasakannya sebagai harga yang mesti kita bayar sebelum mencapai kesuksesan. Makanya jangan pernah berhenti berusaha hingga keluar dari zona kegagalan. Ketika ingin menjadi penulis hebat jangan pernah berhenti disaat kegagalan pertama menghampiri. Teruslah menulis sampai akhirnya benar-benar menjadi penulis fenomenal. Karena ketika berhenti menulis dengan dalih kegagalan pertama kedua dan ketiga saat itulah akhir dari cita-cita besar kita menjadi penulis. Dan secara tidak langsung kita telah mengubur hidup-hidup mimpi kita menjadi penulis fenomenal. Karena kehebatan kita dalam menulis tidak muncul saat pertama kali berkeinginan menjadi penulis. Tapi tulisan kita akan ditempa terus menerus hingga kita pun tanpa sadarkan diri telah menjadi penulis hebat. Jangan berhenti menulis karena orang lain hari ini tidak membaca karya kita. Teruslah menulis dan menulis sehingga ketika jumlah kegagalan yang ditakdirkan kepada kita sudah habis kita akan menjadi penulis besar. Analogikan selalu ke profesi yang lain seperti mahasiswa, politikus, bisnisman, petani dan lain-lain. Tidak ada yang tidak gagal dalam percobaan pertama. Bahkan nikmatnya kesuksesan itu ada tatkala kegagalan-kegagalan tersebut.

      Siapa yang tidak kenal dengan Tomas Alfa Edison. Konon kabarnya dia pernah gagal 1000 kali sebelum akhirnya mampu menemukan lampu yang manfaatnya bisa kita rasakan. Seandainya dia berhenti tatkala percobaan pertama, boleh jadi sampai hari ini kita akan hidup dalam kegelapan tanpa adanya lampu yang menerangi. Yang luar biasa dari beliau adalah cara pandangnya dalam menerima kegagalan tersebut. Saya bukannya gagal 999 kali. Namun saya telah  menemukan 999 cara baru dalam membuat lampu. Marilah selalu berpikiran positif agar kegagalan-kegagalan tersebut bisa lebih bermakna. Wallahu A`lam.

 

 

Bacalah !!!

gambar kitab

Dr.Edward Coffey seorang doktor ahli saraf menemukan bukti bahwa membaca buku yang dilakukan secara rutin dan bermakna dapat membantu seseorang terhindar dari penyakit demensia ( rusaknya jaringan sel saraf diotak ). Dengan membaca seseorang kemudian dapat menghubungkan sel-sel saraf yang satu dengan sel-sel saraf yang lain. Dan jika proses menghubung-hubungkan ini terjadi secara kontinu dan efektif, maka jaringan saraf diotakpun menjadi sangat rapat dan kukuh.

 Nikmat yang pertama kali musti kita syukuri setelah beriman kepada Allah ta`ala dan menjadi umat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam adalah membaca. Betapa banyaknya orang yang diberi kesempatan untuk menghirup udara merasakan berbagai nikmat dunia oleh Allah akan tetapi belum dikaruniai kemampuan untuk membaca alias ummi. Kata membaca terdiri dari 7 huruf yang mudah diucapkan namun begitu sulit untuk diaplikasikan.  Islam sebagai agama, telah lama memotifasi umatnya untuk membaca. Bukankah ayat yang pertama kali diturunkan lebih dari  14 abad lalu kepada Rasululllah shallallahu `alaihi wasallam adalah “  iqra` “ yang bermakna bacalah. Perintahnya `am ( umum ) mencakup segala jenis bacaan. Membaca  Alquran, buku, alam semesta yang terbentang luas  lengkap dengan  segala isinya mulai dari planet sampai entitas terkecil yang ada, bahkan membaca diri sendiri yang outputnya nanti adalah mengenal Allah ta`ala ( man `arafa nafsahu faqad  `arafa rabbahu ). Dimulai dengan iqrak lah kemajuan umat manusia bisa digapai. Tiada kemajuan tanpa membaca. Tidak membaca berarti sebuah kemunduran dan keterbelakangan. Saking  urgennya membaca sampai-sampai Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam mau membebaskan tawanan perang yang tidak punya harta tebusan  dengan syarat mengajarkan anak-anak kaum Anshar skil membaca.

 Dengan membaca kita mampu memikirkan dan mengetahui informasi apapun yang berkembang dimedia massa. Dengan membaca kita bisa mengitari dunia sedangkan kita berada di pelosok desa jauh dari keramaian kota dan hiruk pikuk dunia. Kalau kita ingin melakukan perjalanan keluar desa  atau keluar Indonesia menuju Mesir, Jerman atau Amerika namun kita tidak memiliki biaya marilah kita membaca. Anda akan mampu merasakan denyut nadi orang Australia sedangkan anda berada di Indonesia. Anda mampu mengitari padang sahara Mesir yang tandus dan menyaksikan peradaban yang telah ada ribuan tahun lamanya dengan membaca. Anda bisa merasakan kebisingan stadion Allianz arena di pertandingan liga Champion antara Bayern munchen dan Barcelona dengan membaca ( Koran bola ). Atau jalan-jalan dinegara adidaya Amerika berada diatas jembatan Golden Gate di California  dengan membaca. Atau merasakan derasnya aliran sungai Amazon yang merupakan sungai terpanjang kedua didunia setelah Nil di Afrika dan ganasnya gigitan ikan Piranha dengan membaca.. Atau merasakan perjuangan Imam Bukhari berjalan dari Bukhara yang terletak di Negara Uzbekistan ke mesir, Baghdad , bahkan Suria, belajar kepada Ulama besar dunia dengan membaca. Atau jalan-jalan ditaman Surga bersalaman dengan bidadari yang cantik jelita sambil minum air telaga dengan membaca. Atau merasakan panasnya neraka yang apinya tiada henti menyala membakar para durjana seperti Abu lahab dan istrinya dengan membaca. Itu semua dapat kita lakukan secara percuma tanpa mahalnya biaya. Apalagi yang menghalangi kita untuk membaca ?.

 Semua bahan bacaan dan perpustakaan yang  memiliki berbagai katalog buku telah tersebar dibumi pertiwi. Bahkan internet yang dahulunya hanya milik bersama yang terletak ditengah kota hari ini sudah menjadi konsumsi pribadi yang tersebar dipelosok negeri. Derasnya arus informasi dewasa ini yang berisi berbagai konten berita mulai dari yang terkeji sampai anjuran dan motifasi seolah-olah tidak bisa kita ikuti . Segala macam kemudahan tersebut kadang belum mampu juga membuat kita menggerakkan hati, memaksimalkan sarana yang ada untuk membaca demi melejitkan potensi diri dan berkarya tiada henti. Hal ini berbanding lurus dengan kondisi negeri ini yang terpuruk oleh sistem meterialisme dan hedonisme yang telah lama mengakar dan mendarah daging mulai dari elemen terendah hingga tikus-tikus berdasi yang  terus menerus mengeruk kekayaan tanah surgawi.

Lihatlah ulama-ulama kita ( tanpa larut dalam romantisme masa lalu ) betapa keterbatasan hidup dan fasilitas tidak menghalangi mereka membaca. Imam Ibnu AlJauzi pernah berkata : aku tidak pernah kenyang membaca buku, jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog buku-buku wakaf di madrasah Nizhamiyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat katalog  buku Abu Hanifah, AlHumaidi, Abdul wahhab, Ibnu Nashir, Abu Muhammad bin Khasysyab dan lain-lain yang mampu aku baca. Aku pernah membaca 20.000 jilid buku lebih, dan sampai sekarang aku masih mencari ilmu. Dan inipun dibuktikan dengan karya beliau yang berjumlah lebih dari 500 judul buku. Mustahilkah ? tidak bagi orang seperti mereka yang benar-benar memanfaatkan setiap detik waktunya untuk ilmu. Bagi mereka tiada waktu yang terbuang percuma tanpa karya. Bahkan waktu-waktu dimana dianggap normal menghabiskannya, tidak buat mereka. Ketika makan, berjalan kaki, hingga ke kamar mandipun mereka sempatkan untuk membaca. Imam Abdurrahman anak dari Imam Abu Hatim Arrazi pernah ditanya perihal banyaknya hadis yang beliau dengar dari sang ayah : beliau menjawab : ketika sedang makan saya membacakan hadis kepadanya, ketika dia berjalan kaki saya membaca hadis kepadanya, ketika dia buang hajat saya membaca hadis kepadanya….. Bahkan Imam Tsa`lab imam dibidang Nahwu membaca ketika sedang berjalan kaki padahal beliau sudah berumur 90 tahun yang menyebabkan kematian beliau.

 Mereka tidak disibukkan dengan smartphone yang membuat mayoritas penggunanya terbuai dan menjadikan orang terdekat semakin jauh dan orang yang jauh kian mendekat. Jangan katakan kepada saya seandainya mereka hidup dizaman kita ( zaman smartphone yang telah bertahta dan menggurita ) mungkin akan berbeda alur  ceritanya. Ingatlah bahwa tiap generasi memiliki tantangan hidupnya masing-masing. Mereka juga memiliki tantangan hidup sebagaimana yang kita rasakan. Kadang ditengah keterbatasan itulah seseorang mampu menunjukkan kualitasnya. Ulama-ulama terdahulupun mampu berandai-andai kalau saya hidup dizaman smartphone akan lain ceritanya. Tapi tidak, mereka bukan generasi berandai-andai yang minim karya. Mahalnya harga buku serta alat tulis ketika itu tidak menghalangi mereka menjadi pribadi yang luar biasa yang mampu membaca ribuan karya.

 Ingatlah bahwa lemahnya motifasi anak muda hari inilah diantara penyebab hilangnya begitu banyak karya ulama kita terdahulu. Hilang boleh jadi bermakna tidak bertemu karena tidak ada yang peduli dan mencarinya , atau bermakna tidak mampu dipahami sehinggga hanya dijadikan sebagai penghias rumah tergeletak begitu rapi tak bernyawa atau parahnya lagi dijadikan sebagai panungkuih maco. Kadang gaya hidup yang serba instanlah yang membuat kita ingin menjadi ilmuan dan Ulama secara instan. Syaikhul islam GOOGLE dijadikan referensi tanpa mau membuka kembali lembaran-lembaran kitab yang telah lama disantap oleh debu. Kalau seandainya kitab-kitab ini bernyawa mereka akan merintih dan meraung-raung karena tidak pernah disentuh dan dibaca oleh kita. Perjuangan ulama terdahulu seolah menjadi sia-sia dan tidak memiliki makna karena minimnya budaya baca di lingkungan kita. Marilah sama-sama kita jaga khazanah peninggalan ulama kita dengan membacanya. Sudah saatnya kita sebagai alumni pesantren  menggalakkan kembali adagium : almuhaafazhatu `alal qadiim ashshaalih wal akhzu bil jadiidil ashlah

 ( المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح )

Melesterikan budaya/metodologi/sesuatu yang lama namun masih relevan dan mengambil sesuatu/metodologi/terobosan baru/ langkah inovatif yang lebih baik. Tanpa harus membuang seluruh yang lama. Melestarikan dengan cara membaca karangan mereka. Mari Kembali ke Kitab!!!.

 Wallahu a`lam.

ESENSI SEBUAH PERAN DAN PENGORBANAN

 

Manusia hidup di dunia ini tak bisa lepas dari bantuan dan pertolongan orang lain karena mereka adalah makhluk sosial (al insaanu madaniyyun bi thab`ih). Tatkala tidak ada orang lain, maka dia tidak mampu memerankan fungsi sosial tersebut dengan baik. Seorang petani tidak bisa membajak sawah untuk menanam pelbagai macam tanaman tanpa alat bajak. Dan alat tersebut tentu tidak muncul begitu saja tanpa ada orang yang menjualnya. Makanya si petani membutuhkan si penjual. Disinilah adanya simbiosis mutualisme antara petani dengan penjual. Petani membutuhkan penjual alat bajak / tukang bajak untuk menggarap sawahnya, begitu pula dengan penjual membutuhkan petani untuk membeli produknya.

Kalau begitu manusia tentu tidak bisa menyatakan dirinyalah yang berperan besar dalam kehidupan ini, dirinyalah yang berkorban dan berperan lebih banyak dari orang lain, dirinyalah yang terhebat, sekali lagi tidak bisa demikian. Bagaimanapun seseorang pasti butuh orang lain. Kalau dia masih membutuhkan orang lain bagaimana mungkin dia menyatakan dirinyalah yang terhebat dan berperan lebih. Seorang da`i kondang bagaimanapun hebatnya, tidak akan dikatakan hebat kalau tidak ada pendengar atau jama`ahnya. Dia tidak bisa mengatakan dirinyalah yang berperan besar dalam mengajak manusia kepada kebenaran. Apakah dengan tidak hadirnya jama`ah, lalu dia berbicara saja sendiri diatas mimbar akan dikatakan da`i hebat ?  Tentu tidak. Barangkali orang akan berpandangan sinis kepadanya bahkan meragukan kewarasannya. Dia baru dikatakan hebat tatkala ada jama`ah yang mau mendengar dan mengikuti kata-katanya. Begitu juga dengan penulis fenomenal. Dia tidak mungkin dikatakan hebat kalau tidak ada orang yang mau mengedit, menerbitkan dan membaca karyanya. Tatkala tulisannya diterbitkan oleh penerbit  setelah proses editing, lalu tulisan tersebut disebarkan dan ada orang lain membaca, mencari-cari dan menunggu-nunggu karyanya barulah mungkin (sekali lagi mungkin dan belum tentu) dia dilabeli penulis hebat. Tapi jangan lupakan peran seorang editor dan pembaca demi sebuah karyanya yang layak terbit dan renyah dibaca.

Ada sebuah ilustrasi menarik tentang pengorbanan. Ilustrasi yang terinspirasi dari kelapa ( Alam takambang jadi guru ). Biasanya di Minangkabau atau daerah lainnya, orang menggunakan perasan santan dari kelapa ini untuk membuat randang. Randang adalah daging sapi yang dimasak dengan kuah santan menggunakan bumbu-bumbu tertentu yang merupakan ikon kuliner Minangkabau. Biasanya randang ini tidak ada setiap saat karena cara pengolahannya yang cukup rumit dan membutuhkan keterampilan khusus disamping harga daging yang cukup mahal. Biasanya randang ini ada dimomen-momen penting seperti baralek atau acara tasyakuran, atau hari raya Idul Adha (selain di restoran tentunya). Kembali ke permasalahan kelapa, kelapa tersebut memiliki pohon yang sangat tinggi. Untuk mendapatkannya dibutuhkan manusia yang cekatan dalam memanjat atau dengan cara lain yang lebih modern. Tatkala menurunkan kelapa tersebut dari pohon yang tinggi tidak diturunkan dengan cara baik-baik. Biasanya langsung saja dijatuhkan dari puncak pohon ke tanah. Sampai disini kita bayangkan betapa besarnya pengorbanan sebuah kelapa demi randang yang dinikmati manusia. Betapa beratnya cobaan yang dialami sang kelapa tatkala jatuh ketanah. Dan dia tak pernah protes menjalani peran dan statusnya sebagai kelapa. Dia tetap tabah menjalaninya. Karena tahu endingnya adalah pujian manusia akan nikmatnya randang yang dia merupakan elemen yang tak terpisahkan dari randang.

Ternyata cobaan yang dialami kalapa tersebut belum selesai. Masih ada fase-fase dan tahapan yang harus dilaluinya lagi. Kemudian tatkala di ekspor kepasaran, biasanya kelapa  yang banyak tersebut dibawa dengan mobil yang tidak bagus. Tidak ada orang yang membawanya dengan mobil avanza dan sejenisnya. Cobaan berlanjut tatkala akan dilakukan proses pemarutan. Serabut kelapa akan dikupas dengan kejam. Kemudian dibelah dengan parang atau kapak yang tajam. Tatkala diparut dengan mesin pemarut (kukur)  tubuh kelapa akan dicabik-cabik dengan paksa. Ternyata pengorbanan si kelapa belum selesai, adalagi fase selanjutnya yang tak kalah garang, yaitu proses peremasan kelapa dengan air panas sehingga menjadi santan. Karena hasil yang didapatkan tidak akan maksimal tanpa menggunakan air panas. Setelah menjadi santanpun kelapa tadi masih belum bisa dinikmati dengan lezat. Kelapa yang sudah menjadi santan tersebut dimasukkan kedalam kuali lalu dibakar dengan api yang panas menyala-nyala lengkap dengan daging, kentang dan bumbu-bumbu yang lain. Tatkala semuanya matang baru bisa dinikmati. Dan naasnya lagi bukannya kelapa yang sudah menjadi santan tadi yang pengorbanannya jauh lebih besar mendapatkan nama. Seolah-olah namanya tenggelam dalam popularitas randang. Akan tetapi kelapa tak pernah protes walau perannya merasa dikesampingkan dan pengorbannya seolah-olah dilupakan.

Beginilah hakikat sebuah pengorbanan. Tidak mengenal siapa yang lebih besar pengorbanannya. Karena tidak mungkin sebuah pekerjaan besar bisa dilakukan sendiri. Dengan berjamaahlah sebuah pekerjaan besar bisa dilaksanakan dengan cepat, rapi, indah serta memiliki nilai lebih. Tatkala pekerjaan besar dilakukan bersama-sama jangan pernah katakan sayalah orang yang berperan dan berkorban lebih besar dari yang lainnya walaupun memang peran andalah yang begitu dominan. Kata-kata ini akan membuat kita termarginalkan oleh lingkungan sosial. Karena Jarang sekali orang yang sanggup mendengar orang lain memamerkan peran dan menonjolkan pengorbanannya didepan khalayak. Biarkan orang lain secara diam-diam yang akan menilai peran dan pengorbanan kita. Kalaupun tidak ada orang yang menilai yakinlah bahwa Allah tidak akan lupa mencatat peran-peran sosial yang telah kita lakukan. Disinilah kita selalu belajar sebuah kesederhanaan, keikhlasan, dan rendah hati yang membuat diri kita disukai oleh orang lain.

Wallahu a`lam

INSPIRASI DARI KAMAR MANDI

Gambar-Kata-Kata-Bijak Jangan anggap remeh sebuah ide. Boleh jadi penemuan-penemuan besar muncul dari ide yang anda anggap sepele. Jangan lihat besar kecilnya sebuah ide. Tapi lihatlah apa manfaat yang bisa anda ambil dari sebuah ide . ( awal albukhari )

Entah kenapa ide tulisan ini muncul begitu saja pagi ini. Pagi yang kurang menarik bagiku. Karena harus berjuang berulang kali masuk keluar kamar mandi bukan karena saya tidak suka kamar mandi. Tapi lebih kepada cuaca yang kurang bersahabat. Aku lihat info cuaca di hp baruku , ternyata kairo pagi ini 27 derajat celcius. Akan tetapi naluri kritikku muncul begitu saja menyangsikan keakuratannya. Soalnya insting rasa subjektifku mengatakan ini kurang dari 15 derajat celcius karena dingin yang menusuk-nusuk tulangku. Bagiku yang sudah hampir lima tahun di Mesir rasa-rasanya penilaianku tidak salah. Karena aku terlanjur kurang percaya dengan info cuaca di hape yang kadang menipu. Pernah seorang sahabat dulu ketika dingin kairo sedang menggila mengatakan kepadaku bahwa real feal info cuaca sekarang mendekati Nol derajat celcius, hampir turun salju di kota tua ini, dan beberapa daerah seperti bukit Thursina memang turun salju. Aku yang mendengar nol derajat celcius sekonyong-konyong menggigil kedinginan, padahal sebelumnya tidak demikian. Tiba-tiba teman Mesirku menimpali seraya mengatakan jangan pernah percaya dengan info cuaca dari hape. Aku yang sudah 20 tahun di Mesir tidak pernah mendengar cuaca se ekstrim ini. Ah sudahlah, kalian terlalu berapologi kawan. Hampir saja tulisanku tentang kamar mandi menguap karena debat kusirmu ******

Walaupun sampai sekarang aku belum mengetahui siapa orang yang pertama kali menemukan kamar mandi dan mendesainnya begitu nyaman, namun aku percaya bahwa kamar mandi adalah sebuah penemuan dan Ide paling brilian yang pernah ada di dunia ini selain penemuan lampu tentunya. Ide luar biasa kamar mandi tentu datang pula dari orang yang luar biasa. Karena tidak mungkin kamar mandi ada begitu saja tanpa pembuatnya. Tak masalah inteligensinya seperti Einsten, Edison, ataupun Habibi. Yang jelas  Penemuan ini mesti di apresiasi setinggi-tingginya setelah sebelumnya orang mungkin melakukan aktifitasnya seperti mandi dan lain-lain di ruangan terbuka. Ukuran kamar mandi memang tergolong kecil dari kamar-kamar yang lain, tapi siapa sangka bahwa ide-ide luar biasa yang pernah ada dimuka bumi bisa jadi muncul dari kamar segi empat ini. Disamping kisah-kisah nostalgia masa lalu anda mungkin bermula dan terekam semuanya begitu indah disini. hehehe****

Wc panjang alias wespan yang ada di depan masjid Parabek contohnya merupakan tempat yang paling menarik bagi santriwan dan santriwati  sampai sekarang menurut saya. Mungkin sudah jutaan orang  yang telah melakukan aktifitasnya disini seperti buang hajat atau santri yang lagi mandi karena kehabisan air diasrama baik itu aspura maupun aspuri ( aspura= singkatan dari asrama putera, Aspuri= singkatan dari asrama puteri) . Sampai sekarang – baik alumni maupun santri yang masih mengenyam pendidikan di pesantren impian ini – disamping nostalgia menceritakan guru-guru, wc yang satu ini tak luput dari tema pembicaraan mereka, selain tema-tema klasik seperti merancang masa depan lewat pernikahan. Kisah-kisah seperti mereka yang berjuang melawan rasa takut dan kantuk akut karena harus keluar tengah malam disaat sepi tiada seorang pun yang menemani. Kisah-kisah asmara antara dua orang sejoli kadang bermula dari sini. Saya pernah menegur seorang santri junior saya ketika di parabek dulu karena dia mengintip santriwati yang sedang berwudhuk di depan masjid. Atau santriwati yang curi-curi pandang ketempat wudhuk laki-laki dari fentilasi wespan. Karena wespan berdampingan antara laki-laki dan perempuan. ****

Lima menit dikamar mandi bagi saya begitu sayang untuk disia-siakan. Apalagi bagi orang yang menghabiskan begitu lama waktunya disini. Kadang ada yang sekali masuk kamar mandi menghabiskan waktu setengah jam. Menjengkelkan memang apalagi bagi anda yang kebelet kekamar mandi. Ini dirasakan oleh mahasiswa yang ngekos dengan teman-temannya yang cuma memiliki satu kamar mandi. Tak peduli apa yang dilakukannya didalam sana. Kalau 4 kali saja dalam sehari ke kamar mandi berarti 2 jam harus dihabiskan. Dalam sebulan bisa jadi sudah 60 jam yang dihabiskan orang-orang seperti ini. Dikalikan setahun menjadi 720 jam. Kalau di konversikan ke menit menjadi 43.200 menit.. Terlalu berlebihan memang. Namun tidak menutup kemungkinan adanya.  Anda yang lagi enakan jongkok jangan habiskan waktu anda hanya dengan melamun sia-sia. Dari kamar mandilah mungkin anda bangun cita-cita dan telurkan ide-ide besar anda. Dari sinilah mungkin anda rancang aktifitas anda untuk seminggu kedepan, sebulan bahkan bertahun-tahun mendatang. Yang penting 5 menit dikamar mandi tidak terbuang percuma.

Lihatlah bagaimana ulama kita dahulu memaksimalkan waktunya di kamar mandi. Lagi-lagi kisah Imam Abdurrahman anak dari Imam Abu Hatim Arrazi kita tampilkan disini. Pernah ditanya perihal banyaknya hadis yang beliau dengar dari sang ayah, beliau menjawab : ketika sedang makan saya membacakan hadis kepadanya, ketika dia berjalan kaki saya membaca hadis kepadanya, ketika dia lagi dikamar mandi saya membaca hadis kepadanya. Beginilah efisiensi waktu bagi mereka. Rasanya kita bisa melakukan hal yang sama pada hari ini. Lagi nongkrong dikamar mandi bisa update status atau membalas pesan whatsapp teman yang tidak sempat dibalas diluar kamar mandi. Ide-ide gila sudah semestinya ditelurkan dari kamar mandi. Selamat mencoba. ****

Wallahu a`lam

 

Berawal dari Kata

————————Hidup ini indah, kawan, seindah bidadari. Buat apa mengeluh? Mengeluhpun tidak akan menyelesaikan masalahmu sob. Bangkitlah! Itulah nasehat seorang sahabat ketika semangatku mulai redup dimakan usia. Sederhana memang, namun efeknya tidak sesederhana kata-katanya. Itulah hebatnya kata-kata. Imam Bukhari yang kita kenal sekarang juga termotivasi dengan sebuah kalimat sederhana. Saat itu beliau sedang menghadiri manjelis gurunya yang bernama Imam Ishaq bin Rahuyah (Rahawaih).

“Aku ingin kelak diantara kalian ada orang yang mengumpulkan hadis-hadis shahih dari Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dalam satu kitab,” ujar salah seorang santri dalam majelis tersebut.
Kata-kata tersebut begitu membekas dalam hati Imam Bukhari muda. Dari sinilah muncul tekad beliau untuk mengumpulkan hadis-hadis shahih yang beliau seleksi dari 600.000 hadis. 16 tahun beliau berusaha siang dan malam hingga muncullah karya monumentalnya yaitu Shahih Bukhari. Kata-katanya sederhana dan tidak sulit untuk diungkapkan namun dampaknya luar biasa.Tidak hanya kata-kata positif, kata-kata negatifpun terkadang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik. Kata-kata tersebut bisa menjadi motorik untuk melangkah lebih maju dan membuktikan kekeliruan orang yang mengucapkan kata-kata tersebut.

Siapa yang tidak mengenal Imam Khalid Al-Azhari. Pensyarah kitab Audhahul Masalik karangan Imam Ibnu Hisyam yang merupakan syarah dari bait alfiyah Ibnu Malik, nazham 1000 bait nahu. Imam di bidang Bahasa Arab dan Nahu yang hidup sezaman dengan Imam Suyuthi pada abad ke-9 H. Dahulu, beliau bekerja sebagai waqqad(orang yang menyalakan lampu) di Mesjid Al-Azhar Mesir. Seperti biasa tatkala senja menyapa beliau mulai menyalakan lampu. Tak dinyana, sumbu lampu yang hendak beliau nyalakan jatuh ke buku seorang santri. Lantas si santri memaki dan mencela beliau sebagai orang bodoh yang tidak menghargai ilmu. Yang menarik, beliau tidak merespon kata-kata tersebut dengan celaan dan hinaan yang sama. Bahkan beliau tidak menaruh dendam dan amarah. Sebaliknya, celaan tersebut beliau jadikan sebagai pemantik semangat untuk melangkah maju menuntut ilmu nahu hingga beliau mampu menyalakan lampu-lampu ilmu kepada generasi setelahnya.

Maka, jangan pernah meremehkan kata-kata. Kata sederhana menurut kita kadang tidak sesederhana bagi orang yang mendengarnya. Kata-kata tersebut kadang mampu mengubah hidup seseorang 180 derajat keatas atau kebawah, 180 derajat lebih baik atau sebaliknya. Itulah energi yang ditimbulkan sebuah kata. Meskipun kata-kata negatif bisa memberikan energi positif, namun energi negatifnya juga mampu menenggelamkan hidup orang yang mendengarnya. Mereka tidak mampu lagi bangkit membuktikan dirinya sebagai aktor penting sejarah dan peradaban dunia. Kata-kata itu laksana bius dan bisa yang mematikan kreatifitas dan semangat orang yang mendengarnya.

Dampak yang ditimbulkan oleh sebuah kata memang masih misteri dan penuh tanda tanya. Tapi bukankah kita selalu dianjurkan untuk selalu berkata baik? Kalau tidak mampu maka diam bisa menjadi alternatif daripada menimbulkan bencana. Dengan sebuah kata kun-lah Allah ciptakan dunia dan segala isinya. Dengan kalimat syahadatlah amalan kita dianggap dan diterima. dengan kata ijab qabul-lah Allah satukan dua makhluk yang saling mencinta. Dan karena kata talaklah menjadi pemisah diantara mereka berdua.

Inilah refleksi dari sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata-kata baik atau (kalau tidak bisa) diamlah.

Wallahu a`lam

Referensi:

1. Imam Az-Zahabi, Siyar A`lamin Nubala,jilid12, (Beirut: Muassasah Arrisalah, 2001), cet.12, hal.401-402, 405.

2. Muhammad Thanthawi, Nasyatun Nahwi Wa Taarikhu Asyharin Nuhaah, (Kairo: Darul Ma`arif, 2011), cet.4, hal.290.

3. Ibnu Hajar Al`asqalani, Fathul Bari Bisyarhi Shahih Albukhari, jilid 13, (Riyadh: Darut thibah, 2011), cet.4, hal.565.